Sudah 3 kali di hari Jum’at, Rabu, dan Jum’at di bulan Juli dan Agustus 2018, pihak sekolah mengundang orang tua murid kelas 10, 11, dan 12 untuk hadir di rg. Avi guna menyimak dan berdiskusi tentang program sekolah, salahsatu yang diutarakan ialah tata tertib. Kepala sekolah, tentunya seiring dengan usaha pihak sekolah, menekankan agar anak-anak dari orang tua siswa dipantau denga serius supaya tidak ikut-ikutan nongkrong, merokok, terlebih tawuran. Orang tua mengamini (menyetujui) apa yang disampaikan oleh Kepala SMA Negeri 32 Jakarta.

Tawuran tidak memiliki tempat di SMA Negeri 32 Jakarta, dan khususnya di sekolah negeri di Provinsi DKI Jakarta. “Sekolah kami anti-kekerasan, dan anti-bullying. Jika ada yang mengalaminya, harap melapor ke sekolah, kami akan tindak segera”, tegas Ibu Sugiyanti, S.Pd. selaku Kepala SMA Negeri 32 Jakarta sejak Tahun 2016.

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, juga ditekankan 2 program gerakan yang digencarkan oleh dan untuk seluruh civitas akademic  SMAN 32 Jakarta. Selain pertemuan dengan orang tua murid, saat upacara bendera yang di dalamnya ada guru, karyawan, dan tentunya siswa/i, program tersebut juga disuarakan oleh pembina upacara.

Terkait dengan 2 program tersebut, berikut uraiannya.

Pertama, literasi. Siswa diajak untuk melihat cakrawala ilmu melalui jendela dunia dengan cara membaca, mengkaji, dan menuliskan apa yang disimaknya. Buku yang dibaca dapat berupa milik sendiri ataupun buku temannya yang sudah selesai dibaca. Perpustakaan mini di kelas memungkinkan mereka secara teknis saling berbagi bacaan. 


Kedua, Zero Sampah. Gerakan memungut sampai yang ada di depan mata menjadi utama. Mulailah dari yang kecil untuk menciptakan sekolah di 32 bersih dan asri. Salah satu hasil turunan program tersebut ialah pada bulan Agustus ini, seluruh warga sekolah, dari kepala sekolah, kepala TU, guru, siswa dan pihak kantin membawa alat makan masing-masing. Hal demikiam dilakukan guna meminimalisir sampah yang biasanya di produksi kantin, seperti gelas plastik, pembungkus makanan dari kertas atau plastik, dan yang tidak kalah pentingnya, ini untuk mendidik anak untuk memiliki karakter bertanggungjawab. Keresahan kepala sekolah melihat piring dan gelas kotor habis dipakai yang di tinggal begitu saja tanpa di letakkan di tempat yang seharusnya dan dicuci agar elok terlihat, semakin menjadikannya program ini segera digulirkan.

Kedua program ini bertujuan mulia, tinggal seluruh warga sekolah saling bahu membahu mengawalnya. Tentunya, evaluasi wajib dilakukan untuk menyempurnakan program bagus ini.